Minggu, 23 Maret 2014

PERANCANGAN CATU DAYA

TUGAS 1 DIMAS OCTO SANDJAYA 3IB02


      (photocell). Sel bahan bakar menggabungkan gas hidrogen dan oksigen dalam suatu elektrolit untuk menghasilkan ggl dc. Sebuah mesin bahan bakar fosil atau air terjun dapat memutar generator dc atau generator ac.
Pengertian Catu Daya (Power Supply). Daya untuk menjalankan peralatan elektronik dapat diperoleh dari berbagai sumber. Baterai dapat menghasilkan suatu ggl dc dengan reaksi kimia. Foton dari panas atau cahaya yang berasal dari matahari dapat diubah menjadi energi listrik dc oleh sel-foto
Untuk memahami pengertian catu-daya atau power supply sebaiknya kita lebih mengarah pada sumber daya dc yang dapat menjalankan peralatan elektronika secara langsung, meskipun mungkin diperlukan beberapa cara untuk meregulasi dan menjaga suatu ggl agar tetap meskipun beban berubah-ubah. Energi yang paling mudah tersedia, yaitu arus bolak-balik, harus diubah (disearahkan) menjadi dc berpulsa (pulsating dc), yang selanjutnya harus diratakan (disaring) menjadi tegangan yang tidak berubah-ubah. Tegangan (arus) dc juga memerlukan regulasi tegangan agar dapat menjalankan rangkaian elektronika dengan sebaik-baiknya.


Catu Daya yang diperoleh dari sumber daya listrik AC

Pengertian dari istilah “catu-daya” atau “power-supply” biasanya berarti suatu sistem penyearah-filter (rectifier-filter) yang mengubah ac menjadi dc murni. Banyak rangkaian catu-daya yang berlainan yang dapat digunakan untuk pekerjaan tersebut. Komponen dasar yang digunakan untuk rangkaian yang lebih sederhana adalah transformator, penyearah, resistor, kapasitor, dan induktor. Catu daya yang diatur secara lebih kompleks dapat ditambahkan transistor atau trioda sebagai pengindera-tegangan dan pengontrolan-tegangan, ditambah dengan dioda zener atau VR untuk menyediakan tegangan acuan (referensi). Pada masa sekarang pemakaian catu daya dengan metode pensaklaran semakin banyak digunakan. Catu-daya semacam ini sering disebut dengan switching power supply. Sistem ini dinamakan juga dengan catu-daya sistem non-linear karena terjadinya perubahan bentuk gelombang yang tidak linear pada bagian primer dan sekunder berupa hasil pensaklaran (switch).

Catu daya Adaptor adalah perangkat elektronika yang berfungsi menurunkan dan mengubah tegangan AC (Alternating Current) menjadi tegangan DC (Dirrect Current) yang dapat di gunakan sebagai sumber tenaga peralatan elektronika. Sebuah catu daya adaptor yang baik memiliki bagian-bagian seperti pada blok diagram berikut ini :




         Pada gambar ilustrasi transistor NPN berikut ini, junction base-emiter diberi bias positif sedangkan base-colector mendapat bias negatif (reverse bias).



Karena base-emiter mendapat bias positif maka seperti pada dioda, elektron mengalir dari emiter menuju base. Kolektor pada rangkaian ini lebih positif sebab mendapat tegangan positif. Karena kolektor ini lebih positif, aliran elektron bergerak menuju kutup seluruhnya akan menuju base seperti pada dioda. Tetapi karena lebar base yang sangat tipis, hanya sebagian elektron yang dapat bergabung dengan hole yang ada pada base. Sebagian besar akan menembus lapisan base menuju kolektor.
Jika misalnya tegangan base base-emitor dibalik (reverse bias), maka tidak akan terjadi aliran elektron dari emitor menuju kolektor. Jika pelan-pelan 'keran' base diberi bias maju (forward bias), elektron mengalir menuju kolektor dan besarnya sebanding dengan besar arus bias base yang diberikan.
Dengan kata lain, arus base mengatur banyaknya elektron yang mengalir dari emiter menuju kolektor. Ini yang dinamakan efek penguatan transistor, karena arus base yang kecil menghasilkan arus emiter-colector yang lebih besar. Istilah amplifier (penguatan) menjadi salah kaprah, karena dengan penjelasan di atas sebenarnya yang terjadi bukan penguatan, melainkan arus yang lebih kecil mengontrol aliran arus yang lebih besar. Juga dapat dijelaskan bahwa base mengatur membuka dan menutup aliran arus emitter-emiter-kolektor (switch on/off).




Gambar 4. Flowchart Rangkaian Power Supply

Berikut adalah contoh gambar susunan rangkaian Catu Daya.


Setelah memperoleh gambar rangkaian ini rangkailah komponen sesuai dengan rangkaian diatas. Dalam merangkai rangkaian ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama dalam memasang dioda (gunakan dioda brige 1 Ampere) dioda ini memiliki 4 buah kaki yang berisi simbul +, -, dan 2 buah simbol ~.1 kaki yang berisi gambar ~ dihubungkan dengan travo yang berisi angka 12V, dan kaki yang bergambar ~ yang lainnya dihubungkan dengan travo yang berisi tanda 0. Kemudian kaki dioda yang bergambar + dihubungkan dengan kaki + capasitor, dan kaki dioda yang berisi gambar -, dihubungkan dengan kaki – kapasitor.
Kemudian kaki + capasitor dihubungkan dengan kaki input dari IC 7812 (IC ini berisi 3 kaki, untuk lebih jelasnya lihat data Sheet yang disediakan di akhir pembahasan ini), dan kaki – kapasitor dihubungkan dengan kaki Ground/- dari IC 7812.
Setelah itu kaki ke tiga dari IC 7812 yang merupakan kaki keuaran yang harus di hubungkan dengan kaki + kapasitor yang ke 2, dan Ground dari IC 7812 dihubungkan dengan kaki – dari kapasitor ke 2.
Setelah itu pada kaki + kapasitor ke  dipasangkan ke salah satu kaki resistor 1k ohm dan kaki yang satunga dari  resisitor ini dihubungkan pada kaki + dari LED, kemudian kaki – dari LED di hubungkan pada kaki – kapasitor ke 2.
Kemudian pada kaki + pada kapasitor ke 2 dipasangkan kabel yang berisi jepit buaya warna merah, dan pada kaki – kapasitor ke 2 dipasangkan kaber yang berisi jepit buaya warna hitam.
Dan yang terakhir adalah memasang kaber AC yang sudah berisi sekring pada travo. Cara pemasangannya sangat mudah yaitu memasangkan salah satu bagian kabel AC ke travo yang berisi tanda 220V dan bagian lain dari kabel AC dipasangkan pada travo yang bertandakan 0 di sebelah tanda 220V.

sumber :
http://storage.jak-stik.ac.id/students/paper/penulisan%20ilmiah/20402272/BAB%20II.pdf
 http://kurangsangu.wordpress.com/2012/04/05/catu-daya-digital-terkontrol-mikro-atmega16/ 


Selasa, 03 Desember 2013

DEPRESIASI



DIMAS OCTO SANDJAYA
12411124/3IB02

DEPRESIASI
            Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya.
            Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan.
            Biaya Awal(First Cost atau Unadjusted Basis) adalah biaya pemasangan dari asset termasuk biaya pembelian, pengiriman dan fee pemasangan, dan biaya langsung lainnya yang dapat dideprisiasikan termasuk persiapan asset untuk digunakan. Istilah unadjusted basis atau simple basis, serta simbul B dipergunakan ketika asset masih dalam keadaan baru.
            Periode Pengembalian(Recovery Period) adalah umur depresiasi, n, dari asset dalam tahun untuk tujuan depresiasi.
Nilai Buku(Book Value) adalah gambaran sisa, investasi yang belum terdepresiasi pada buku setelah dikurangi jumlah total biaya depresiasi pada waktu itu. Nilai buku BVt selalu ditentukan pada akhir tahun.
            Nilai Pasar(Market Value) adalah Perkiraan nilai asset yang realistis jika asset tersebut dijual pada pasar bebas.
Tingkat Depresiasi (Depreciation Rate atau Recovery Rate) adalah fraksi dari biaya awal yang diambil dengan depresiasi setiap tahun. Tingkat ini adalah dt, mungkin sama setiap tahun yang sering disebut dengan straight-line rate atau berbeda setiap tahun pada periode pengembaliannya.
Nilai Sisa (Salvage Value) adalah Perkiraan nilai jual atau nilai pasar pada akhir masa pakai dari asset tersebut. Nilai sisa SV.

Syarat property yang dapat terdepresiasi

1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan
pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari
setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/
kehancuran, usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.

Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi

1.  Nyata / tangible adalah benda yang dapat dilihat atau dipegang.
Terdiri dari :
            a) property personal/personal property (mesin-mesin, kendaraan,peralatan, furniture).
            b) property riil/real property (seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau         tumbuh yang berdiri di atas tanah tersebut).
2. Tidak nyata / intangible
Contoh intangible : Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.

Alasan depresiasi menjadi komponen penting dalam ekonomi teknik

1. Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
2. Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation) nilai asset tersebut. Pengalokasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya selesai.
3. Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi, sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.

Hal yang memungkinkan terjadinya depresiasi
Hal-hal yang menyebabkan penyusutan:
1. Faktor Teknis
            a. rusak
            b. aus
            c. bencana alam dll
2. Faktor Ekonomis
            a. Harga perolehan
            b. nilai sisa
            c. Umur ekonomis

Dalam menghitung depresiasi kita dapat menggunakan beberapa metode antara lain

1. Metode garis lurus (straight line method)
            Dalam metode ini penentuan besar penyusutan setiap tahun selama umur  ekonomis sama besar, sehingga jika dibuat grafiknya terhadap waktu, dan akumulasi   biaya akan berupa garis lurus.

Besar penyusutan tiap tahun dapat dihitung dengan rumus:

Besar Penyusutan = (Harga Perolehan - Nilai Sisa) : umur ekonomis

Contoh kasus
Pada  1 Agustus 2000 Gerry membeli sebuah sepedah motor kawasaki Ninja 250cc seharga Rp.35.000.000,-. Untuk biaya keperluan lainnya dibayar    Rp.1.000.000,-. Sepedah motor tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 5 tahun dengan nilai sisa Rp.23.000.000,-

Pertanyaan : Hitunglah penyusutan pada tahun 2000
Jawab :

Penyusutan tahun 2000 dihitung dari tanggal 1 Agustus 2000 s/d 31 Desember 2000 = 5 bulan:
Besar Penyusutan tahun 2000 = ( (5/12) x (36.000.000 - 23.000.000) ) : 5 = Rp 1.083.333,-

2.Metode tariff tetap atas nilai buku
            Dalam metode ini, penentuan besar penyusutan dilakukan dengan cara     pengalokasian harga perolehan AT dgn persentase ttt dr nilai buku utk setiap     periode akuntansi
a.metode saldo menurun (declining balance method)
besar penyusutan dapat dihitung dengan rumus
Tarif = 1- ns  1/n
hp
Tentukan besar penyusutan
Besar Penyusutan = Tarif x Nilai Buku
Nilai Buku  = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

Contoh kasus :
Tgl 1 Februari 2001 Gunadarma membeli sebuah AC Rp.3.500.000,-. Untuk       biaya pemasangan dan keperluan lainnya dibayar Rp.100.000,- Mesin tesebut ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun dengan nilai sisa Rp.800.000,- Cara menghitung

Diminta : Hitunglah penyusutan pada tahun 2001

Penyelesaian:

Tarif = 1 – (800.000/3.600.000) 1/8 = 1 – (0,222) 1/8 =1 – 0.828= 0,172=17,2 %

Penyusutan tahun 2001 dihitung dari tanggal 1 Februari 2001 s.d 31 Desember 2001 = 11   bulan
Besar penyusutan tahun 2001 = 11/12 x 17,2 % x Rp.3500.000,-
= Rp.551.833,-

b.metode saldo menurun ganda (double declining method)

Langkah-langkah Perhitungan:
1. Tentukan Tarif penyusutan
Tarif = 2 x (100%/UE)
2. Besar Penyusutan = Tarif  x Nilai Buku
Nilai Buku = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan

Contoh kasus :
Tgl 1 Februari 2001 Gunadarma membeli sebuah AC Rp.3.500.000,-. Untuk       biaya pemasangan dan keperluan lainnya dibayar Rp.100.000,- Mesin tesebut ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun dgn nilai sisa Rp.800.000,- Cara menghitung

Tarif = 2 x (100%/8)
= 25 %

Penyusutan tahun 2001 dihitung tgl 1 Februari 2001 s.d 31 Desember 2001 = 11 bulan
Besar penyusutan tahun 2001 = 11/12 x 25 % x Rp.3.600.000,-
= Rp.825.000,-

3. Metode jumlah angka tahun (sum of the years digits method)

Metode ini disebut jumlah angka-angka tahun karena tarif depresiasinya didasarkan pada suatu pecahan yang :
* Pembilangnya adalah tahun-tahun pemakaian aktiva yang masih tersisa sejak awal tahun ini.
* Penyebutnya adalah jumlah tahun-tahun sejak tahun pertama hingga tahun pemakaian yang terakhir


Langkah-langkah perhitungan:
1. Tentukan jumlah angka tahun (JAT)
JAT = nx ((n+1)/2)

2. Tentukan besar penyusutan
Besar Penyusutan = AT  x  (HP-NS)
JAT

Contoh kasus: Sebuah mesin dibeli seharga Rp. 2500.000,- ditaksir memiliki umur ekonomis selama 5 tahun atau 500.000 jam kerja dan diperkirakan memiliki nilai sisa sebesar Rp. 500.000,-. Hitunglah besar penyusutan bila diketahui jam kerja setiap tahun sebagai:
Tahun ke 1 = 100.000 jam
Tahun ke 2 = 120.000 jam
Tahun ke 3 = 130.000 jam
Tahun ke 4 = 80.000 jam
Tahun ke 5 = 70.000 jam

Penyelesaian:
Besar Penyusutan tahun 1 =
100.000 x 2500.000 – 500.000 = Rp.400.000,-
500.000
Besar Penyusutan tahun 2 =
120.000 x 2500.000 – 500.000 = Rp.480.000,-
500.000
Besar Penyusutan tahun 3 =
130.000 x 2500.000 – 500.000 = Rp.520.000,-
500.000
Besar Penyusutan tahun 4 =
80.000 x 2500.000 – 500.000 = Rp.320.000,-
500.000
Besar Penyusutan tahun 5 =
70.000 x 2500.000 – 500.000 = Rp.280.000,-
500.000


Kapasitas produksi suatu aktiva tetap dijadikan pedoman dalam penentuan besarnya depresiasi, dan besarnya produksi yang dilakukan dalam kapasitas produksi tersebut merupakan metode yang digunakan untuk menghitung depresiasi.

Rumus menghitung depresiasi :

Tarif depresiasi =
Harga perolehan-nilai sisa/kapasitas produksi

Contoh:
PT Garuda Nusantara membeli mesin penggilingan padi seharga Rp.10.000.000 dengan kapasitas produksi 50 ton beras, umur 4 tahun. Adapun perincian pemakaian selama 4 tahun tersebut :
Tahun 1 : 15 ton
Tahun 2 : 10 ton
Tahun 3 : 20 ton
Tahun 4 : 5 ton

Jawab :

Depresiasi tahun.ke1 = Rp.10.000.000/50 ton x 15 ton = Rp. 3.000.000,-

Jurnal pada akhir tahun ke 1 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp. 3.000.000
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Pad=====Rp. 3.000.000

Depresiasi tahun ke 2 := Rp. 200.000 x 10 ton = Rp. 2.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 2 :

Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp.2.000.000
Akumulasi Dep.-Penggilingan Padi====== Rp. 2.000.000

Depresiasi tahun ke 3 = Rp. 200.000 x 20 ton = Rp. 4.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 3 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp.4.000.000
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Padi====Rp. 4.000.000

Depresiasi tahun ke 4 = Rp. 200.000 x 5 ton = R. 1.000.000

Jurnal pada akhir tahun ke 4 :

D : Beban Dep.-Penggilingan Padi Rp. 1.000.000,-
K : Akumulasi Dep.-Penggilingan Pad==== Rp. 1.000.000


DEPLESI

Deplesi merupakan istilah lain dari penyusutan atau amortisasi. Deplesi digunakan khusus untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, misalnya bijih besi, hasil tambang, kayu hutan dsbnya.

Deplesi dihitung dengan tarif deplesi yang diperoleh dari Beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.

Ilustrasi 1 :

PT Andalan Tambang memperoleh hak penambangan sebesar Rp. 500.000.000.000,- Estimasi hasil yang terkandung didalamnya sebesar 1.000.000 ton bahan tambang. Tahun pertama berhasil ditambang sebesar 26.500 ton, maka Jurnal Deplesi yang dilakukan akhir tahun pertama adalah :

D : Beban Deplesi=== Rp. 13.250.000.000,-
K : Akumulasi Deplesi====== Rp. 13.250.000.000,-

Keterangan:

Besarnya deplesi tergantung pada jumlah ton yang berhasil ditambang.


Link :
http://solusiakun.blogspot.com/2009/11/d-e-p-l-e-s-i-deplesi-merupakan-istilah_10.html